Seperti kita ketahui, kondisi anak-anak saat ini sangat jauh berbeda
dengan kondisi anak-anak di jaman dahulu. Faktor yang paling berperan
dalam perubahan ini adalah media. Perkembangan media yang sangat pesat,
menyebabkan anak-anak di jaman sekarang lebih cepat dewasa dibandingkan
usianya. Ini sangat memprihatinkan, karena anak-anak kehilangan masa
kecilnya. Lihat saja, berbagai acara yang ditawarkan di program televisi
umumnya ditujukan untuk kalangan remaja dan dewasa. Acara-acara
sinetron di televisi umumnya tidak mendidik, hanya menawarkan realita
kehidupan nyata tanpa memberikan solusi dan beberapa ada yang cenderung
mengada-ada atau direkayasa. Tidak banyak dari kita memahami dan memaknai Al-Qur’an, sebagian dari
kita hanya membatasinya dalam ruang lingkup religi. Padahal Al-Qur’an
ini adalah rahmatan lil alamin yang mencakup pedoman kehidupan ini baik
dunia kesehariannya maupun nanti di akhirat. Justru para cendekiawan dan
ilmuwan muslim dijaman dahulu menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi
penelitian sehingga menjadi ilmuwan unggul, berkebalikan di masa
sekarang dimana masih sedikit ilmuwan muslim yang seperti itu sehingga
penemuan dan penelitian lebih didominasi ilmuwan barat.Do Something Better . . . Do Something Better . . . Do Something Better . . . Do Something Better . . . Do Something Better . . .
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Thursday, 7 March 2013
7M Agar Anak Selalu Hidup Bersama Al-Quran dan Menjadi Anak Yang Soleh dan Solehah
Seperti kita ketahui, kondisi anak-anak saat ini sangat jauh berbeda
dengan kondisi anak-anak di jaman dahulu. Faktor yang paling berperan
dalam perubahan ini adalah media. Perkembangan media yang sangat pesat,
menyebabkan anak-anak di jaman sekarang lebih cepat dewasa dibandingkan
usianya. Ini sangat memprihatinkan, karena anak-anak kehilangan masa
kecilnya. Lihat saja, berbagai acara yang ditawarkan di program televisi
umumnya ditujukan untuk kalangan remaja dan dewasa. Acara-acara
sinetron di televisi umumnya tidak mendidik, hanya menawarkan realita
kehidupan nyata tanpa memberikan solusi dan beberapa ada yang cenderung
mengada-ada atau direkayasa. Tidak banyak dari kita memahami dan memaknai Al-Qur’an, sebagian dari
kita hanya membatasinya dalam ruang lingkup religi. Padahal Al-Qur’an
ini adalah rahmatan lil alamin yang mencakup pedoman kehidupan ini baik
dunia kesehariannya maupun nanti di akhirat. Justru para cendekiawan dan
ilmuwan muslim dijaman dahulu menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi
penelitian sehingga menjadi ilmuwan unggul, berkebalikan di masa
sekarang dimana masih sedikit ilmuwan muslim yang seperti itu sehingga
penemuan dan penelitian lebih didominasi ilmuwan barat.Tuesday, 1 January 2013
Peran Ayah Dalam Mendidik Anak Menurut Islam
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman (31) ayat 13).
AYAT ini, bersama dengan ayat-ayat serupa (al-Baqarah 132, Yusuf 67) bercerita tentang para ayah (Luqman, Nabi Ya’kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak-anaknya. Ternyata, proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui al-Qur’an dilakukan oleh para ayah. Tidak ada satu ayat pun yang memotret momen pendidikan dari para ibu, kecuali adanya perintah menyusui tanpa menafikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar yang sifatnya umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.
Pendidikan Anak dalam Islam
Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.
Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Membentuk Keluarga Sakinah
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa ukuran keberhasilan kita di dalam meniti karir keluarga kita diukur dari sejauh mana kita menghantarkan seluruh anggota keluarga kita ke gerbang pintu surga atau tidak, ketika kita gagal untuk menghantarkan seluruh anggota keluarga kita untuk masuk ke gerbang pintu surge berarti kita telah gagal dalam karir keluarga kita.
Dalam hidup ini, sekurang-kurangnya kita mempunyai 3 karir, yaitu karir pendidikan, karir pekerjaan dan karir keluarga, karir pendidikan ada selesainya, karir pekerjaan ada pensiunnya, akan tetapi karir keluarga tidak berhenti tujuh turunan. Setelah hari ini kita membentuk keluarga, bahkan akan kita demonstrasikan seumur hidup kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)